Dimulai 2 bulan sebelumnya saya dan teman - teman kantor sudah merencanakan perjalanan mendaki gunung ini, karena kami juga sudah melihat keindahan nya dari foto - foto yang banyak terpampang di medsos maka sepaktlah kami ber 8 memilih gunung ini untuk kami daki. Setelah beberapa minggu satu per satu pun berhalangan karena beberapa masalah dan hanya tersisa 1 orang saja, maka saya pun mncari beberapa teman saya yang mau ikut bergabung ke dalam pendakian kali ini. Akhirnya saya berhasil merekut 4 orang teman saya yang ingin merasakan pengalaman mendaki gunung.
![]() |
| Perlengkapan Siap |
Rencana awal kami semua harus berkumpul jam 20.00 di rumah seorang teman saya yang juga tergabung dalam petualangan kali ini, tetapi memang orang Jakarta kebiasaan jam karet akhirnya jam 21.00 kami baru berangkat menuju terminal bus Kampung Rambutan dengan menggunakan angkot yang kami carter. Setelah 40 menit perjalanan kami tiba di terminal Kampung Rambutan dan langsung mencari bus jurusan Garut
![]() |
| Menunggu Bus Jurusan Garut |
![]() |
| Pemandangaan Gunung Guntur |
16 Agustus 2015
Setelah 1 jam berlalu akhirnya mobil yang menjemput kami pun sampai dan langsung mengantar kami ke cisurupan dan dilanjutkan dengan menggunakan mobil bak terbuka untuk sampai ke camp David. Kami pun melewati pos dan membayar biaya registrasi pendakian sebesar Rp. 10.000 per orang. Begitu tiba di camp David kami segera mengisi perut dan dokumentasi sebentar sebelum memulai pendakian.
![]() |
| Siap Mendaki |
Pada pukul 08.30 akhirnya kami mulai mendaki. Cuaca di Papandayan saat siang sungguh menyengat dan disarankan untuk memakai sun block atau topi, jika tidak akan bernasib seperti muka saya yang
terbakar teriknya matahari di Papandayan. Di sepanjang perjalanan ini dipenuhi oleh bebatuan, dan trek awal masih terbilang sangat bersahabat
![]() |
| Menuju Kawah Papandayan |
Baru berjalan beberapa menit kami sudah disuguhi pemandangan yang sangat indah, dan kami akhirnya melewati jalanan yang agak menanjak untuk mencapai kawah Papandayan yang sudah tercium dan kami segera memasang masker kami masing - masing untuk mencegah hal yang tak diinginkan.
Setelah puas berfoto kami pun kembali melanjutkan perjalanan kami dengan menyusuri jalan setapak yang agak sempit dan berjalan agak menurun sampai kami bertemu aliran sungai yang mengalir di tengah perjalanan.
Setelah melewati aliran sungai, kami menemui 2 jalur yaitu jalur kiri untuk jalur yang landai tapi panjang, jalur kanan lebih pendek tapi curam. Setelah kami berembuk akhirnya kami memutuskan untuk memilih jalur kanan yang lebih menantang.
Alhasil kami pun kewalahan melewati jalur ini yang menanjak tanpa ampun dan mengakibatkan kami cepat kelelahan dan banyak berhenti untuk beristirahat. Setelah melewati jalur ini yang menguras banyak tenaga kami tiba di atas jalur utama dan waktu sudah menunjukan pukul 12.00 yang berarti sudah 3 jam setelah kami mendaki. Akhirnya kami pun mengisi perut di warung yang kami temui di sepanjang jalur ini, Sungguh luar biasa di atas gunung banyak sekali warung yang berjualan makanan dan minuman, jadi para pendaki tidak perlu khawatir jika persediaan makanan tidak mencukupi.
Perjalanan pun kami lanjutkan setelah perut kami semua sudah terisi, semangat kami pun ikut terbakar untuk melanjutkan perjalanan dan terus melangkah sampai tujuan kami yaitu "Pondok Saladah" kami sudah membayangkan betapa indahnya pada saat malam tiba ngecamp di pondok saladah dan melihat bintang - bintang yang gemerlap di langit seakan melengkapi keindahan malam saat itu.
Tidak lama kami melangkah, di depan kami terdapat lapang luas dan terhampar beberapa tenda yang sudah ngecamp disana, kami pikir inilah yang dinamakan Pondok Saladah, tetapi setelah bertanya kepada beberapa pendaki disana ternyata kami salah, dan perjalanan pun kami lanjutkan sampai akhirnya sekitar 30 menit kami tiba di Pondok Saladah.
Suasana di Pondok Saladah pada hari ini sangatlah ramai dikunjungi oleh para pendaki yang juga ingin merayakan hari kemerdekaan Indonesia di gunung Papandayan, akhirnya kami segera mencari spot untuk mendirikan 2 tenda kami.
Setelah kami memasang tenda, kami pun terlelap sejenak di dalam tenda sambil mengumpulkan tenaga untuk nanti menjelajah ke Hutan Mati. setelah puas beristirahat kami pun masak - masak sebentar untuk menikmati hidangan yang sudah kami bawa masing - masing.
Fyi: di Pondok Saladah juga terdapat beberapa sumber mata air loh!! dan airnya langsung dapat diminum tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Air di Pondok Saladah ini sungguh dingin dan segar cocok sekali dinikmati untuk menghilangkan dahaga.
Kami pun segera beranjak dari tenda untuk menjelajah ke Hutan Mati, sebelumnya kami harus melewati sebuah genangan air yang hanya beralaskan batu dan kayu untuk menyebranginya bergantian. Kami juga menjaga keseimbangan agar celana dan sepatu kami tidak basah selagi menyebrangi genangan ini.
Setelah kami semua berhasil melewati genangan, kami pun sudah bisa melihat edelweis si bunga abadi di sepanjang jalan yang kami lalui. Tidak lama kami berjalan menyusuri keindahan dari jalur ini, akhirnya kami pun tiba di kawasan Hutan Mati yang sangat eksotis dan sangat memanjakan mata para pendaki yang melihatnya.
Kami pun tertegun dan takjub melihat keindahan kawasan Hutan Mati ini yang dulu diakibatkan dari letusan Papandayan pada tahun 2002 silam. Kami pun memakai momen ini untuk berfoto foto ria dan menyimpanya dalam memori kami masing - masing.
Setelah puas berfoto - foto hari pun mulai gelap dan kami memutuskan untuk kembali ke camp kami di Pondok Salada dan melanjutkan perjalanan ke Tegal Alun besok pagi.
Malam pun tiba dan di kala itu banyak sekali bintang - bintang yang terlihat sangat jelas di Pondok Salada dan tempat ini sudah sangat dipenuhi oleh tenda dari pendaki yang bermalam disini. Udara malam di Papandayan sangatlah dingin hingga menusuk tulang, walaupun sudah memakai pakaian yang berlapis dan juga sudah berada di dalam sleeping bag tetap saja membuat saya tidak dapat tertidur lelap hingga pagi menjelang.
Setelah puas menikmati pemandangan disini kami pun memutuskan untuk kembali ke Pondok Salada untuk persiapan turun gunung. Kami pun mencoba jalur lain untuk turun, jalur ini lebih curam dan jarang ditemui pendaki lain, kami pikir mungkin ini jalan pintas untuk menuju Pondok Saladah tempat kami mendirikan tenda.
Setelah lama kami menyusuri jalan yang terus menurun, kami pun mulai pesimis jalur yang kami lalui ini benar, untungnya di tengah perjalanan kami menemui pendaki lain dan segera bertanya apakah jalur ini memang menuju Pondok Saladah.
Tenyata jalur yang kami lalui bukanlah menuju Pondok Saladah, melainkah menuju Kawah Papandayan. Kami pun harus kembali lagi naik ke atas melewati kawasan Tegal Alun untuk dapat sampai di Pondok Saladah.
Beberapa teman kami pun sudah sangat kelelahan, dan kami saling memberi semangat agar dapat terus melanjutkan perjalanan kami kembali ke Pondok Saladah. Akhirnya kami pun melalui jalur yang sudah kami lalui yaitu Tegal Alun dan Hutan Mati untuk sampai ke Pondok Saladah.
Setelah kami sampai di tenda, kami pun beristirahat sejenak dan mengisi perut kami yang sudah berbunyi, sesudah itu kami segera membereskan tenda dan mengemas barang - barang kami untuk turun gunung beserta beberapa pendaki lain nya yang sudah terlebih dahulu turun.
Tidak lama kami melangkah, di depan kami terdapat lapang luas dan terhampar beberapa tenda yang sudah ngecamp disana, kami pikir inilah yang dinamakan Pondok Saladah, tetapi setelah bertanya kepada beberapa pendaki disana ternyata kami salah, dan perjalanan pun kami lanjutkan sampai akhirnya sekitar 30 menit kami tiba di Pondok Saladah.
![]() |
| Memasang Tenda |
Setelah kami memasang tenda, kami pun terlelap sejenak di dalam tenda sambil mengumpulkan tenaga untuk nanti menjelajah ke Hutan Mati. setelah puas beristirahat kami pun masak - masak sebentar untuk menikmati hidangan yang sudah kami bawa masing - masing.
Fyi: di Pondok Saladah juga terdapat beberapa sumber mata air loh!! dan airnya langsung dapat diminum tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Air di Pondok Saladah ini sungguh dingin dan segar cocok sekali dinikmati untuk menghilangkan dahaga.
Setelah kami semua berhasil melewati genangan, kami pun sudah bisa melihat edelweis si bunga abadi di sepanjang jalan yang kami lalui. Tidak lama kami berjalan menyusuri keindahan dari jalur ini, akhirnya kami pun tiba di kawasan Hutan Mati yang sangat eksotis dan sangat memanjakan mata para pendaki yang melihatnya.
Setelah puas berfoto - foto hari pun mulai gelap dan kami memutuskan untuk kembali ke camp kami di Pondok Salada dan melanjutkan perjalanan ke Tegal Alun besok pagi.
Malam pun tiba dan di kala itu banyak sekali bintang - bintang yang terlihat sangat jelas di Pondok Salada dan tempat ini sudah sangat dipenuhi oleh tenda dari pendaki yang bermalam disini. Udara malam di Papandayan sangatlah dingin hingga menusuk tulang, walaupun sudah memakai pakaian yang berlapis dan juga sudah berada di dalam sleeping bag tetap saja membuat saya tidak dapat tertidur lelap hingga pagi menjelang.
![]() |
| Sunrise Papandayan |
17 Agustus 2015
Kami pun semua bersiap pagi pagi untuk naik ke area Tegal Alun yang disana terdapat Padang Edelweis yang sangat memanjakan mata setiap orang yang memandanginya. Setelah sarapan kami pun berangkat dan cuaca pagi di kala itu masih sangat dingin.
![]() |
| View Dari Hutan Mati |
Kami menyusuri Hutan Mati yang seluruh tanahnya berwarna putih dan mengandung belerang, membuat suasana di area makin eksotis dan membuatnya tidak pernah sepi pengunjung. Jalur menuju Tegal Alun terus menanjak, bisa dikatakan inilah jalur paling berat di sepanjang jalur Papandayan ini, karena hampir tidak ada bonus, untungnya di tengah perjalanan terdapat sumber air, jadi kami dapat mengisi air minum kami yang tinggal tersisa dikit.
![]() |
| Trek Menuju Tegal Alun |
Setelah perjuangan kami yang terus menanjak akhirnya kami pun tiba di atas dan berjalan masuk ke dalam hutan. Tidak jauh kami berjalan akhirnya dari kejauhan kami dapat melihat sebuah papan yang menandakan kita telah sampai di area Tegal Alun, dan tempat ini sungguh benar benar indah dan sangat luas, inilah surganya bunga Edelweis.
![]() |
| Bunga Edelweis |
![]() |
| 17 Agustus 2015 Tegal Alun |
Setelah lama kami menyusuri jalan yang terus menurun, kami pun mulai pesimis jalur yang kami lalui ini benar, untungnya di tengah perjalanan kami menemui pendaki lain dan segera bertanya apakah jalur ini memang menuju Pondok Saladah.
Tenyata jalur yang kami lalui bukanlah menuju Pondok Saladah, melainkah menuju Kawah Papandayan. Kami pun harus kembali lagi naik ke atas melewati kawasan Tegal Alun untuk dapat sampai di Pondok Saladah.
Beberapa teman kami pun sudah sangat kelelahan, dan kami saling memberi semangat agar dapat terus melanjutkan perjalanan kami kembali ke Pondok Saladah. Akhirnya kami pun melalui jalur yang sudah kami lalui yaitu Tegal Alun dan Hutan Mati untuk sampai ke Pondok Saladah.
Setelah kami sampai di tenda, kami pun beristirahat sejenak dan mengisi perut kami yang sudah berbunyi, sesudah itu kami segera membereskan tenda dan mengemas barang - barang kami untuk turun gunung beserta beberapa pendaki lain nya yang sudah terlebih dahulu turun.
![]() |
| Perjalanan Turun Gunung |
Berakhir sudah perjalanan kami kali ini yang sangat meninggalkan pengalaman yang berharga, Perjalanan naik gunung mengajarkan kami banyak hal seperti: mengalahkan rasa ego kami, terus berjuang sampai menuju tujuan, jangan pernah menyerah dan rasa solidaritas.
Estimasi:
- Bus Jakarta- Garut pp Rp 110.000
- Transport Spbu Tanjung - Basecamp David Rp 40.000
- Biaya Registrasi Pendakian Rp 10.000
- Logistik Rp 100.000
- Basecamp David - Terminal Garut Rp. 60.000
Total biaya kami kali ini adalah Rp 320.000
Inilah video perjalanan kami, selamat menikmati! ^_^








































Tidak ada komentar:
Posting Komentar