Minggu, 27 Desember 2015

Wisata ke Dieng dan Menapak Gunung Prau


Halo sobat, pada kesempatan kali ini ijinkan saya akan bercerita sedikit tentang perjalanan saya menuju Dieng yang berlokasi di Jawa Tengah dan katanya sih tempat kediaman para dewa cuy ( wow!! ). Sebenarnya rencana perjalanan ini sudah direncanakan sejak 2 tahun lalu, tetapi karena berhubung banyaknya teman2 ngetrip yang tiba2 batal akhirnya sudah 3x rencana perjalanan ini gatot! dan karena sudah mupeng banget liat di medsos keindahan Dieng dan Golden Sunrise nya akhirnya saya berhasil mengumpulkan 2 orang yang mau ikut ngetrip ke Dieng ^^

Menuju Wonosobo  

27 Desember 2015

Jam 18.00 kami bertiga dari Jakarta langsung menuju terminal Grogol yang tiketnya baru saya dapatkan tadi siang, Perjalanan kali ini kami menggunakan bus Damri ekonomi menuju Wonosobo, dan lama perjalanan kira2 menghabiskan waktu 8 jam dan langsung tiba di terminal bus Wonosobo. Ketika sampai di terminal Wonosobo waktu menunjukan jam 9 pagi dan kami langsung membeli tiket pulang untuk keesokan harinya menggunakan bus Pahala Kencana kelas bisnis, setelah itu kami pun mengisi perut kami hingga kenyang. Di terminal Wonosobo ini banyak sekali carteran mobil untuk menuju Dieng, jadi sobat tak perlu khawatir masalah akses transportasinya. dan terminal Wonosobo ini sangatlah bersih dan nyaman, jadi kalau masih mau santai santai sebentar disini juga boleh lah! heheheh...... 

  
Dieng Plateau

28 Desember 2015

Tak berlama lama lagi kami langsung carter mobil menuju Dieng, lama perjalanan sekitar 1 jam dan mobil berhenti tepat di depan losmen bu djono yang sudah sangat terkenal di kalangan para turis lokal maupun mancanegara. Kami pun menginap 1 malam disini yang sudah kami book sebelumnya. 

oh ya di losmen Bu Djono kita dapat book tanpa harus dp dulu loh! dan disini juga sangat direkomendasi tempatnya karena selain murah dan bersih, disini juga bisa sewa motor untuk kita bisa jelajahi Dieng ini dengan nyaman.

Menu Rumah makan Bu Djono

Setelah kami bersantai sejenak di rumah makan Bu Djono, kami pun langsung menyewa motor dan menuju ke lokasi Candi dan melihat beberapa Candi yang ada disana
Candi Arjuna
 Bersama Temen Ngetrip  
Setelah foto2 di candi kami langsung bergegas menuju lokasi selanjutnya yaitu Kawah Sikidang menggunakan motor sewaan, dan di tengah diperjalanan menuju ke lokasi cuaca sedikit tidak mendukung dengan hujan yang cukup lebat mengguyur kami yang sedang berpacu menggunakan motor yang melaju cukup kencang ditambah udara di dieng yang lumayan dingin, maka kami memutuskan untuk berteduh sejenak sambil menunggu hujan reda.

Setelah menunggu 10 menit akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami sampai ke Kawah Sikidang, begitu tiba di lokasi hujan pun kembali mengguyur kami dan terpaksa kami menyewa 1 payung untuk digunakan bertiga ( hemat cuy :p )

Mejeng dulu 
Keren Nih Owl nya
Kawah 


Setelah kami masuk ke lokasi ini hujan pun akhirnya dapat bekerja sama dengan baik ^^ kami pun segera menikmati keindahan Kawah ini, tidak lupa kami juga memakai masker begitu mendekat ke kawah karena baunya sungguh menyengat. Tidak berapa lama hujan pun turun kembali dan kami segera bergegas untuk mencari tempat berteduh.

Selama berteduh akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tripod yang saya bawa dan mencari posisi yang tepat untuk mengambil Timelapse sambil memegang payung untuk melindungi kamera dari percikan air hujan.

Hujan pun reda dan kami memutuskan untuk bergegas ke Telaga Warna karena waktu sudah hampir sore. begitu tiba di lokasi kami pun langsung membayar tiket masuk dan sampai di Telaga warna




Sesudah mengambil beberapa foto Hujan kembali mengguyur kami seperti sedang menggoda liburan kami untuk menikmati keindahan Dieng >.< kami pun mencari tempat berteduh, karena kali ini hujan turun cukup deras dan tak hunjung henti henti nya.

Kami pun memutuskan untuk pergi ke warung yang ada tidak jauh dari tempat lokasi, dan mencoba makanan khas Wonosobo "Mie Ongklok" harganya pun sangat terjangkau Rp.10.000 saja

Mie Ongklok

Menurut saya mie ongklok ini rasanya cukup unik dan sangat membuat kami ketagihan, apalagi ditemani dengan teh manis hangat yang membuat suasana hujan sore ini semakin asik.

Setelah kami melahap habis makanan ini, Kami memutuskan untuk menerjang hujan badai ini dengan membeli jas hujan demi menuju lokasi selanjutnya yaitu "Batu Pandang" tempat ini cukup populer di Dieng karena banyaknya foto di medsos yang menampilkan keindahan Dieng dari view Batu Pandang ini.

Perlengkapan sudah kami pakai semua dan siap untuk ngebut menerjang hujan ini, karena langit sudah hampir gelap, kami segera berangkat dan setelah sampai lokasi kami harus berjalan menyusuri jalan setapak yang agak menanjak. Ya hitung - hitung sedikit pemanasan untuk persiapan kami nanti pagi mendaki gunung Prau.

View Telaga Warna dari Batu Pandang

Serasa di Film Titanic
Begitu kami tiba di atas langit sudah hampir gelap, dan segera kami gunakan sisa waktu ini untuk berfoto foto. Tak lama kemudian langit pun gelap dan kami akhirnya sudah cukup puas walaupun hanya sesaat di tempat ini.

Sampailah kita di losmen dan segera beristirahat karena nanti jam 01.30 pagi kami harus bangun untuk mulai naik ke Gunung Prau. Beberapa orang yang kami temui di sekitar losmen tidak ada yang punya rencana ke Prau. Awalnya saya pikir gunung Prau ini tidak pernah sepi pengunjung, maka pastilah ada juga rombongan yang naik pada jam segitu untuk menikmati sunrise yang katanya sih Prau punya Golden Sunrise yang paling indah di Indonesia

Mendaki Gunung Prau

29 Desember 2015

Tepat pukul 01.30 alarm kami berbunyi menandakan kami harus segera bangun dan mulai bersiap untuk mendaki Prau. Perlengkapan kali ini cukup matang dengan memakai baju 3 lapis, topi kupluk dan sarung tangan. Karena waktu lalu pada saat saya mendaki ke Papandayan cuaca malam hari sangat dingin hingga menusuk tulang, maka kali ini saya pun menutupi badan saya agar tak kedinginan pada saat naik nanti.

Pada saat tiba di basecamp Via Dieng, suasana disana sungguh sepi, alias tidak ada pendaki yang naik di jam itu. Jadi dapat dipastikan hanya kami bertiga yang naik ke Prau pada saat itu dengan hanya membaya registrasi pendakian Rp 10.000 kami mendapatkan peta Prau, kata orang orang setempat jika naik via Dieng lebih jauh kira kira lama perjalanan yang ditempuh 3-4 jam.

 Kami pun mulai melangkah dan melewati perkebunan, suasana malam itu sungguh mencekam terlebih kami melewati pemakaman yang terdapat disana. Hanya senter kami bertiga yang menerangi jalan di sekitar jalur itu.

Selangkah demi selangkap kami pun menyusuri perkebunan yang nan gelap dan sekitar 15 menit kami tiba di pos 1. Setelah melewati pos 1 kami melewati hutan yang sunyi hanya suara langkah kami bertiga yang terdengar menambah suasana makin seru di saat itu.

Hanya sekitar 2 jam kami berjalan, akhirnya kami menemui beberapa tenda dari pendaki yang sudah terpasang disana, dan ternyata tanpa diduga kami telah mencapai puncak hanya dengan 2 jam perjalanan via Dieng, Lebih cepat dari dugaan awal.

Golden Sunrise Prau mulai terlihat
Trek menuju Puncak
Narsis dulu






Setelah puas berfoto - foto kami memutuskan untuk turun di jalur yang sama, suasana di gunung Prau tidak begitu ramai pendaki, mungkin dikarenakan sudah banyak yang pulang setelah long weekend natal beberapa hari lalu.







Di sepanjang jalan menuruni gunung Prau ini kami selalu terpikat pemandangan yang luar biasa yang sungguh sayang jika tidak diabadikan, Maka perjalanan turun kami menjadi lebih lama sekitar 3 jam baru sampai di losmen bu djono.


Setelah kami merapikan barang - barang, kami pun kembali ke terminal Wonosobo untuk pulang ke Jakata. 

Sungguh perjalanan kami kali ini sungguh menguras tenaga, walau hanya bertiga tetapi keseruan dan kekeluargaan yang kami dapat sangatlah besar. 

Estimasi Biaya Perjalanan:

  • Bus Damri Ekonomi Rp. 120.000
  • Bus Pahala Kencana Bisni Rp. 130.000
  • Carter Mobil ke Dieng PP  Rp 80.000 
  • Losmen Bu Djono Rp 150.000 : 3 = Rp. 50.000
  • Sewa 2 Motor Rp. 120.000 : 3 = Rp. 40.000
  • Biaya Parkir Motor Rp. 8000
  • Tiket masuk Wisata Rp. 25.000
  • Tiket Registrasi Pendakian Rp. 10.000
  • Logistik Rp 70.000

Estimasi Perjalanan kami kali ini totalnya adalah Rp. 533.000

Berikut saya juga menyertakan video perjalanan kami





Sabtu, 15 Agustus 2015

Merayakan Hari Kemerdekaan di Gunung Papandayan


Halo para sobat Tukang Cerita, pada kali ini saya mau menceritakan catatan perjalanan kami nih mendaki gunung Papandayan pada hari kemerdekaan 17 agustus. kenapa kami memilih Papandayan untuk merayakan hari kemerdekaan kita ini? jawabanya sangat sederhana yaitu: Papandayan terletak di kota Garut yang berdekatan dengan ibukota yang dapat ditempuh dengan hanya 4 jam perjalanan darat, dan bisa terbilang gunung Papandayan merupakan salah satu gunung terindah di kawasan jawa barat, maka tidak ada alasan untuk kami untuk tidak mengunjunginya.

Dimulai 2 bulan sebelumnya saya dan teman - teman kantor sudah merencanakan perjalanan mendaki gunung ini, karena kami juga sudah melihat keindahan nya dari foto - foto yang banyak terpampang di medsos maka sepaktlah kami ber 8 memilih gunung ini untuk kami daki. Setelah beberapa minggu satu per satu pun berhalangan karena beberapa masalah dan hanya tersisa 1 orang saja, maka saya pun mncari beberapa teman saya yang mau ikut bergabung ke dalam pendakian kali ini. Akhirnya saya berhasil merekut 4 orang teman saya yang ingin merasakan pengalaman mendaki gunung.

Perlengkapan Siap
15 Agustus 2015 

Rencana awal kami semua harus berkumpul jam 20.00 di rumah seorang teman saya yang juga tergabung dalam petualangan kali ini, tetapi memang orang Jakarta kebiasaan jam karet akhirnya jam 21.00 kami baru berangkat menuju terminal bus Kampung Rambutan dengan menggunakan angkot yang kami carter. Setelah 40 menit perjalanan kami tiba di terminal Kampung Rambutan dan langsung mencari bus jurusan Garut

Menunggu Bus Jurusan Garut

Setelah kami menunggu beberapa menit akhirnya bus jurusan garut pun tiba dan kami segera masuk untuk mencari tempat duduk yang strategis, suasana di dalam bus sangat penuh dengan pendaki yang juga ingin mendaki di kota Garut yang terdiri dari beberapa gunung yaitu gunung Guntur, Cikuray dan Papandayan. Setelah perjalanan sekitar 4 jam akhirnya kami tiba di Garut dan turun di pom bensin Tanjung dan beristirahat sejenak di depan indomaret sambil menunggu mobil yang akan menjemput kami sampai ke base camp David.

Pemandangaan Gunung Guntur
16 Agustus 2015

Setelah 1 jam berlalu akhirnya mobil yang menjemput kami pun sampai dan langsung mengantar kami ke cisurupan dan dilanjutkan dengan menggunakan mobil bak terbuka untuk sampai ke camp David. Kami pun melewati pos dan membayar biaya registrasi pendakian sebesar Rp. 10.000 per orang. Begitu tiba di camp David kami segera mengisi perut dan dokumentasi sebentar sebelum memulai pendakian.

Siap Mendaki

Pada pukul 08.30 akhirnya kami mulai mendaki. Cuaca di Papandayan saat siang sungguh menyengat dan disarankan untuk memakai sun block atau topi, jika tidak akan bernasib seperti muka saya yang
terbakar teriknya matahari di Papandayan. Di sepanjang perjalanan ini dipenuhi oleh bebatuan, dan trek awal masih terbilang sangat bersahabat




Menuju Kawah Papandayan
Baru berjalan beberapa menit kami sudah disuguhi pemandangan yang sangat indah, dan kami akhirnya melewati jalanan yang agak menanjak untuk mencapai kawah Papandayan yang sudah tercium dan kami segera memasang masker kami masing - masing untuk mencegah hal yang tak diinginkan.





Kami pun beristirahat sejenak sambil berfoto -foto untuk mengembalikan tenaga kami agar dapat melanjutkan perjalanan sampai pondok salada yang akan menjadi tujuan kami untuk ngecamp disana.
Setelah puas berfoto kami pun kembali melanjutkan perjalanan kami dengan menyusuri jalan setapak yang agak sempit dan berjalan agak menurun sampai kami bertemu aliran sungai yang mengalir di tengah perjalanan.

Setelah melewati aliran sungai, kami menemui 2 jalur yaitu jalur kiri untuk jalur yang landai tapi panjang, jalur kanan lebih pendek tapi curam. Setelah kami berembuk akhirnya kami memutuskan untuk memilih jalur kanan yang lebih menantang.



 Alhasil kami pun kewalahan melewati jalur ini yang menanjak tanpa ampun dan mengakibatkan kami cepat kelelahan dan banyak berhenti untuk beristirahat. Setelah melewati jalur ini yang menguras banyak tenaga kami tiba di atas jalur utama dan waktu sudah menunjukan pukul 12.00 yang berarti sudah 3 jam setelah kami mendaki. Akhirnya kami pun mengisi perut di warung yang kami temui di sepanjang jalur ini, Sungguh luar biasa di atas gunung banyak sekali warung yang berjualan makanan dan minuman, jadi para pendaki tidak perlu khawatir jika persediaan makanan tidak mencukupi.



Perjalanan pun kami lanjutkan setelah perut kami semua sudah terisi, semangat kami pun ikut terbakar untuk melanjutkan perjalanan dan terus melangkah sampai tujuan kami yaitu "Pondok Saladah" kami sudah membayangkan betapa indahnya pada saat malam tiba ngecamp di pondok saladah dan melihat bintang - bintang yang gemerlap di langit seakan melengkapi keindahan malam saat itu.

Tidak lama kami melangkah, di depan kami terdapat lapang luas dan terhampar beberapa tenda yang sudah ngecamp disana, kami pikir inilah yang dinamakan Pondok Saladah, tetapi setelah bertanya kepada beberapa pendaki disana ternyata kami salah, dan perjalanan pun kami lanjutkan sampai akhirnya sekitar 30 menit kami tiba di Pondok Saladah.


 Suasana di Pondok Saladah  pada hari ini sangatlah ramai dikunjungi oleh para pendaki yang juga ingin merayakan hari kemerdekaan Indonesia di gunung Papandayan, akhirnya kami segera mencari spot untuk mendirikan 2 tenda kami.

Memasang Tenda


Setelah kami memasang tenda, kami pun terlelap sejenak di dalam tenda sambil mengumpulkan tenaga untuk nanti menjelajah ke Hutan Mati. setelah puas beristirahat kami pun masak - masak sebentar untuk menikmati hidangan yang sudah kami bawa masing - masing.

Fyi: di Pondok Saladah juga terdapat beberapa sumber mata air loh!! dan airnya langsung dapat diminum tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Air di Pondok Saladah ini sungguh dingin dan segar cocok sekali dinikmati untuk menghilangkan dahaga.



Kami pun segera beranjak dari tenda untuk menjelajah ke Hutan Mati, sebelumnya kami harus melewati sebuah genangan air yang hanya beralaskan batu dan kayu untuk menyebranginya bergantian. Kami juga menjaga keseimbangan agar celana dan sepatu kami tidak basah selagi menyebrangi genangan ini.



Setelah kami semua berhasil melewati genangan, kami pun sudah bisa melihat edelweis si bunga abadi di sepanjang jalan yang kami lalui. Tidak lama kami berjalan menyusuri keindahan dari jalur ini, akhirnya kami pun tiba di kawasan Hutan Mati yang sangat eksotis dan sangat memanjakan mata para pendaki yang melihatnya.






Kami pun tertegun dan takjub melihat keindahan kawasan Hutan Mati ini yang dulu diakibatkan dari letusan Papandayan pada tahun 2002 silam. Kami pun memakai momen ini untuk berfoto foto ria dan menyimpanya dalam memori kami masing - masing.

Setelah puas berfoto - foto hari pun mulai gelap dan kami memutuskan untuk kembali ke camp kami di Pondok Salada dan melanjutkan perjalanan ke Tegal Alun besok pagi.

Malam pun tiba dan di kala itu banyak sekali bintang - bintang yang terlihat sangat jelas di Pondok Salada dan tempat ini sudah sangat dipenuhi oleh tenda dari pendaki yang bermalam disini. Udara malam di Papandayan sangatlah dingin hingga menusuk tulang, walaupun sudah memakai pakaian yang berlapis dan juga sudah berada di dalam sleeping bag tetap saja membuat saya tidak dapat tertidur lelap hingga pagi menjelang.

Sunrise Papandayan

17 Agustus 2015

Kami pun semua bersiap pagi pagi untuk naik ke area Tegal Alun yang disana terdapat Padang Edelweis yang sangat memanjakan mata setiap orang yang memandanginya. Setelah sarapan kami pun berangkat dan cuaca pagi di kala itu masih sangat dingin.

View Dari Hutan Mati
Kami menyusuri Hutan Mati yang seluruh tanahnya berwarna putih dan mengandung belerang, membuat suasana di area makin eksotis dan membuatnya tidak pernah sepi pengunjung. Jalur menuju Tegal Alun terus menanjak, bisa dikatakan inilah jalur paling berat di sepanjang jalur Papandayan ini, karena hampir tidak ada bonus, untungnya di tengah perjalanan terdapat sumber air, jadi kami dapat mengisi air minum kami yang tinggal tersisa dikit.

Trek Menuju Tegal Alun
Setelah perjuangan kami yang terus menanjak akhirnya kami pun tiba di atas dan berjalan masuk ke dalam hutan. Tidak jauh kami berjalan akhirnya dari kejauhan kami dapat melihat sebuah papan yang menandakan kita telah sampai di area Tegal Alun, dan tempat ini sungguh benar benar indah dan sangat luas, inilah surganya bunga Edelweis.


Bunga Edelweis




17 Agustus 2015 Tegal Alun
Setelah puas menikmati pemandangan disini kami pun memutuskan untuk kembali ke Pondok Salada untuk persiapan turun gunung. Kami pun mencoba jalur lain untuk turun, jalur ini lebih curam dan jarang ditemui pendaki lain, kami pikir mungkin ini jalan pintas untuk menuju Pondok Saladah tempat kami mendirikan tenda.

Setelah lama kami menyusuri jalan yang terus menurun, kami pun mulai pesimis jalur yang kami lalui ini benar, untungnya di tengah perjalanan kami menemui pendaki lain dan segera bertanya apakah jalur ini memang menuju Pondok Saladah.

Tenyata jalur yang kami lalui bukanlah menuju Pondok Saladah, melainkah menuju Kawah Papandayan. Kami pun harus kembali lagi naik ke atas melewati kawasan Tegal Alun untuk dapat sampai di Pondok Saladah.

Beberapa teman kami pun sudah sangat kelelahan, dan kami saling memberi semangat agar dapat terus melanjutkan perjalanan kami kembali ke Pondok Saladah. Akhirnya kami pun melalui jalur yang sudah kami lalui yaitu Tegal Alun dan Hutan Mati untuk sampai ke Pondok Saladah.

Setelah kami sampai di tenda, kami pun beristirahat sejenak dan mengisi perut kami yang sudah berbunyi, sesudah itu kami segera membereskan tenda dan mengemas barang - barang kami untuk turun gunung beserta beberapa pendaki lain nya yang sudah terlebih dahulu turun.

Perjalanan Turun Gunung

Berakhir sudah perjalanan kami kali ini yang sangat meninggalkan pengalaman yang berharga, Perjalanan naik gunung mengajarkan kami banyak hal seperti: mengalahkan rasa ego kami, terus berjuang sampai menuju tujuan, jangan pernah menyerah dan rasa solidaritas. 


Estimasi:
  • Bus Jakarta- Garut pp Rp 110.000
  • Transport Spbu Tanjung - Basecamp David Rp 40.000
  • Biaya Registrasi Pendakian Rp 10.000
  • Logistik Rp 100.000
  • Basecamp David - Terminal Garut Rp. 60.000
Total biaya kami kali ini adalah Rp 320.000

Inilah video perjalanan kami, selamat menikmati! ^_^